Sejarah Desa Wisata Sapit

Nama Desa Sapit

Secara definisi Desa Sapit sampai saat ini belum di ketahui pasti apa arti dan makna sapit itu sendiri, namun jika di perhatikan dari babad tersebut di katakan bahwa jauh sebelum kerajaan pamatan hilang, kata “sapit” sudah ada, itu artinya keberadaan desa sapit sudah ada semasa jayanya kerajaan pamatan, sebab pada pupuh 276 pada babad lombok di katakan, ketika samalas meletus seiring hancurya kerajaan pamatan, banyak kerabat raja yang pergi dan ngamanin diri ke wilayah sapit. Itu artinya desa sapit adalah salah satu desa tertua di wilayah sasak lombok, hanya saja memnag harus di akui sampai saat ini, belum di ketahui dengan pasti kapan, siapa, dan apa makna dari kata sapit itu sendiri.

Mengkaji kesejarahan desa sapit tentu saja tidak bisa hanya melihat dari catatan babad semata, sebab babad itu sendiri penuh dengan tendensi politiks, yang jelas melihat peradaban desa sapit harus memperhatikan dua fase yang harus diatasi, pertama fase pra sejarah dan kedua adalah fase sejarah, dimana dalam fase pra sejarah kita mengetahui beberapa tahapan, muli dari zaman batu tua, tengah dan zaman batu muda / dalam buku sejarah di sebut dengan zaman neolitikum.

Peradaban masyarakat desa sapit pada zaman megalitikum sudah masuk dalam kata gori neolitikum, karena prasasti peninggalan neolitikum sampai pada situs yang masih ada rapi, seperti batu jenis menhir, punden, dolmen, manik-manik batu, sarkofagus hingga pada arca prunggu kasar, masih tersimpan di wilayah desa sapit, yang tersebar di beberapa dusun, yaitu dusun batu pandang, batu cangku dan dusun sapit.

Sementara pada fase sejarah, sebelum tahun 1960 silam tiga kekuatan besar pernah singgah di wilayah desa sapit, yaitu: boda, hindu dan islam iti di lihat dari banyaknya ditemukan situsnya dan menjadi barang pajangan di musium yang ada. penemuan 7 buah arca, 1 diantaranya mirip dengan arca-arca yang ada di candi borobudur, sebagai peninggalan abad ke 8, sedangkan dua di antaranya terdiri dari arca dewi tara dan arca awalokitaswara yang saat ini di simpan di musium nasional jakarta, dan satunya adalah arca siwa mahadewa yang tersimpan di musium NTB, sementara yang tersisa masih di simpan oleh warga desa sapit.

Tidak hanya itu situs sejarah seperti bangunan kuno dan segala perlengkapan yang ada, masih tetap di jaga hingga saat ini, masji kuno langgar pusaka desa sapit yangenurut penuturan warga di bangun pada abad 13, 3 buah alqur’a Tulis tangan, 2 buah bahan khutbah yang di tulis dengan bahan daun lontar.

Dari rentetan catatan di atas terbukti bahwa desa sapit adalah salah satu desa di gumi sasak lombok, yang tentu saja luput dari pandangan sejarawan.

Semoga oretan ini hanya mencerahkan kita dan, menjadi rujukan untuk membongkar sejarah lombok yang pentuh dengan tendensi politik.

Secara pengehidupan masyarakat desa sapit adalah masyarakat agraris yang 95% masyarakatya adalah petani. Desa sapit secara topografi berada 650-120 mdpl, sehingga kondisinya miring.

Meletusnya gunung samalas.

Gunung samalas meletus pada tahun 1257, dengan menyisakan kerusakan di mana mana, serta membentuk segara anak, sebagai icon duni. Bersamaan dengan itu kerajaan pamatanpun hilang tenggelam reruntuhan, dalam babad tersebut ada 6 kali di sebutan terkait soal meletusnya gunung samalas.

1. 274. Gunung Renjani kularat, miwah gunung samalas rakrat, balabur watu gumuruh, tibeng desa Pamatan, yata kanyut bale haling parubuh, kurambangning sagara, wong ngipun halong kang mati. (Gunung Rinjani Longsor, dan Gunung Samalas runtuh, banjir batu gemuruh, penghapusan Desa Pamatan, rumah-rumah rubuh dan hanyut terbawa lumpur, terapung-apung di lautan, penduduknya banyak yang mati).

2. 275. Pitung dina lami nira, gentuh hiku hangebeki pretiwi, hing leneng hadampar, hanerus maring batu Dendeng kang nganyuk, wong ngipun kabeh hing paliya, saweneh munggah hing ngukir.Tujuh hari lamanya, gempa dahsyat meruyak bumi, terdampar di Leneng (lenek), diseret oleh batu gunung yang hanyut, manusia berlari semua, sebahagian Lagi naik ke bukit.

3. 276. Hing jaringo hasingidan, saminya ngungsi salon darak sangaji, hakupul hana hing riku, weneh ngunsi samuliya, boroh Bandar papunba lawan pasalun, sarowok pili lan ranggiya, sambalun pajang lan sapit. Bersembunyi di Jeringo, semua mengungsi dari kerabat raja, berkumpul mereka di situ, ada yang mengungsi ke Samulia, Borok, Bandar, Pepumba, dan Pasalun, Serowok, Piling, dan Ranggi, Sembalun, Pajang, dan Sapit.

4. 277. Yek nango lan pelameran, batu banda jejangkah tanah neki, duri hanare menyan batu, saher kalawan balas, batu lawang batu span batu cangku, samalim hing tengah, brang bantun gennira ngungsi.(Di Nangan dan Palemoran, batu besar dan gelundungan tanah, duri, dan batu menyan, batu apung dan pasir, batu sedimen granit, dan batu cangku, jatuh di tengah daratan, mereka mengungsi ke Brang batun).

5. 278. Cincin Hana pundung buwak bakang, tana ‘gadang lembak babidas hiki, saweneh hana halarut, hing bumi kembang kekrang, pangadangan lawan puka hatin lungguh, saweneh kalah kang rong, mara hing langko pajanggih. (Ada ke Pundung, Buak, Bakang, Tana ‘Bea, Lembuak, Bebidas, sebagian ada mengungsi, ke bumi Kembang, Kekrang, Pengadangan dan Puka benci-benci lungguh, banyak yang sampai, datang ke Langko, Pejanggik)

6. 279. Warnanen kang munggeng palowan, sami larut lawan ratu hing nguni, hasangidan ya riku, hingLombok goku medah, genep pitung dina punang gentuh, nulih hangumah desa, hing preneha siji-siji.(Semua mengungsi dengan ratunya, berlindung mereka di situ, di Lombok tempat diam, genap tujuh hari gempa itu, lalu membangun desa, di tempat masing-masing).